• 6
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Selamat Datang di Website YAYASAN PENDIDIKAN DAN SOSIAL ---CAHAYA AL-QUR'AN --- MEMBANGUN EKOSISTEM DAN INSAN YANG CINTA AL-QUR'AN & AS-SUNNAH | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Kontak Kami


CAHAYA AL-QUR'AN

NPSN : 20210743

Jalan Diponegoro No. 80 Jogoyudan Lumajang


[email protected]

TLP : 0857.81.889900


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah cahaya al-quran ?
Bagus dan Sangat Bermanfaat
Menarik
Biasa saja
  Lihat

Statistik


Total Hits : 58521
Pengunjung : 28103
Hari ini : 4
Hits hari ini : 18
Member Online : 2
IP : 216.73.216.81
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

  • Nur Hafidz, S.Pd. (Guru)
    2021-04-29 11:33:29

    Syarat diterimanya 'amal shalih adalah ikhlas dan mengikuti contoh dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam

RUH SANG MUROBBI




RUH SANG MUROBBI

 

Oleh : Putri Lailatul Fitria

Kelas : XII

 

         Premis yang menyatakan bahwa gelar akademis yang berderet – deret pada seorang guru bukan jaminan keberehasilan dalam mendidik santri.Metodologi pembelajaran yang paling canggih pun demikian,mungkin ada benarnya. Bahkan sangat mungkin gelar yang membanggakan dan metodologi pembelajaran yang canggih itu justru  jadi boomerang menuju kegagalan. Hal ini bisa terjadi jika seorang guru mengabaikan peran Allah Subhaanahuata’ala dalam mendidik. 

 

         Mendidik itu menyentuh hati. Hati adalah pusat perubahan diri. Jika hatinya baik , maka ucapan dan perilaku santri akan menjadi baik. Jika hatinya buruk, maka ucapan dan perilakunya pun menjadi buruk. Dan tidak ada seorangpun yang dapat membolak – balikkan hati kecuali Allah Subhaanahuata’ala. Disinilah dibutuhkan kekuatan seorang guru untuk menghadirkan Allah Subhaanaahuata’ala dalam setiap interaksi dengan santri.

 

         Pendidikan Islam Klasik pun menjadikan metode sebagai sorotan. Ini dapat dipahami karena metode memang lebih penting dari kurikulum, Ath – thoriqah Ahammu Minal Madah. Namun metode juga sangat tergantung pelaksanaannya pada guru,sebab guru lebih penting dari metode itu sendiri, Al – Mudarris Ahammu Min Ath – Thoriqah. Namun, ruh seorang guru lebih bermakna dari jasadnya sendiri, Wa Ruhul Mudarris Ahammu Min Mudarris Nafsuhu. Karena metode secanggih apapun, jika berada pada guru yang tidak bersemangat, akan Nihil hasilnya. Ruhul Mudarris Ahammu Min Kulli Sai’in, ruh seorang guru lebih penting dari semuanya. Prinsip keterkaitan antara kurikulum, Metode, dan Guru, telah disadari pentingnya oleh para Ulama- ulama Muktabar yang terjun langsung mengurus lembaga pendidikan .

 

         Prinsip pendidikan harus tegas menyatakan bahwa metode lebih penting dari materi, Guru lebih penting dari Metode, Dan Jiwa Guru lebih penting dari guru itu sendiri. Jadi, selain Materi dan Guru, Jiwa Guru sangat berperang penting dalam keberhasilan Pengajaran. Karena dengan jiwa keikhlasan dan pengabdiannya, Guru akan dapat mewarnai Murid. Ini sesuai pendapat Sir Pency Nunn, Seorang Guru Besar Pendidikan di University Of London yang mengatakan bahwa baik buruknya suatu pendidikan tergantung Kebaikan, Kebajikan, dan Kecerdasan Pendidik.

 

         Pilihlah dan pilihkanlah anak kita dengan Guru yang senantiasa Mendekatkan diri kepada Allah Subhaanahuata’ala ( Taqarrub Bihaqqi Illallah), senantiasa Takut kepada Allah (Al- Khauf Bihaqqi Illallah), senantiasa Bersikap Tenang dan selalu Hati-hati ( Wara’), senantiasa Tawadu’, Khusyuk, Mengadukan segala persoalannya kepada Allah Subhaanahuata’ala, tidak menggunakan Ilmunya hanya untuk meraih Kepentingan Dunia semata.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas