• 6
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Selamat Datang di Website YAYASAN PENDIDIKAN DAN SOSIAL ---CAHAYA AL-QUR'AN --- MEMBANGUN EKOSISTEM DAN INSAN YANG CINTA AL-QUR'AN & AS-SUNNAH | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Kontak Kami


CAHAYA AL-QUR'AN

NPSN : 20210743

Jalan Diponegoro No. 80 Jogoyudan Lumajang


[email protected]

TLP : 0857.81.889900


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah cahaya al-quran ?
Bagus dan Sangat Bermanfaat
Menarik
Biasa saja
  Lihat

Statistik


Total Hits : 58526
Pengunjung : 28103
Hari ini : 4
Hits hari ini : 23
Member Online : 2
IP : 216.73.216.81
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

  • Nur Hafidz, S.Pd. (Guru)
    2021-04-29 11:33:29

    Syarat diterimanya 'amal shalih adalah ikhlas dan mengikuti contoh dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam

Nasihat Yang Di Rindukan




         Nasihat Yang Di Rindukan

 

      Oleh : Elda Sofiana

 

       Dalam penjelasan tentang makna yang beriman yang masih belum sepenuhnya menggunakan kegiatan dalam sehari-hari sebelum ajal menjemput adalah masih banyak. Maka cinta dalam keimanan yang selalu dikaitkan dengan saudara umat muslim seperti kaum Anshar yakni i’tisar atau lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri seperti perbedaan dalam antar golongan yakni perbedaan ras, organisasi, partai politik, madzhab fiqih, dan sebagainya. Dalam konteks zaman sekarang yang membenci, menyerang, melecehkan, menghina, merendahkan adalah bukan contoh cabang beriman dan tidak termasuk kriteria orang beriman. Nabi SAW pun telah mengingatkan agar sesama muslim tidak saling menzalimi, meremehkan, maka keimanan harus dijaga dengan taqwa.

 

         Agar pikiran, niat dalam hati, lisan, dan amal selaras seorang muslim hendaknnya mengikuti Al Qur’an dan sunnah-sunnahnya. Bahkan, lebih jelas lagi ukuran saling mecintai sesama muslim adalah mencintai diri sendiri. Mencintai orang lain melebihi diri sendiri tentu bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Tapi juga bukan sesuatu yang mustahil. Di dalam perintah Al Qur’an telah ditegaskan “panggillah ke jalan Tuhanmu dengan arif bijaksana dan nasihat yang baik. Kemudian berdebatlah dengan mereka, dengan (argumentasi) yang lebih baik”.

         Cabang-cabang keimanan sebenarnya harus selalu disertai amal-amal sholeh. Kata “aamanu” disebutkan berulang-ulang sebanyak 879 kali dalam Al Qur’an, sedangkan kata “amilus shalihat” sendiri terulang 53 kali. Gabungan kata iman dan amal sholeh secara bersamaan menunjukkan isyarat al Qur’an bahwa makna beriman yang sesungguhnya adalah disertai dengan amal sholih.

 

         Ini semua adalah nasihat bagi kita semua terutama diri sendiri sebagai orang yang mukmin. Jadi, seorang mukmin itu (sudah semestinya) beriman kepada Zat yang tidak tampak oleh mata kepala, tapi tampak oleh mata hati. Maka dari itu, justru sangat logis jika Mukmin juga mempercayai hukum-hukum yang tampak secara empiris maupun yang tidak, yang diletakkan Allah dalam setiap penciptaanNYA. Hukum-hukum yang tidak tampak sangatlah banyak. Misalnya “barangsiapa memberi dan bertaqwa kepada Allah akan diberi kemudahan”. Dll sebagainya. Jika cabang-cabang iman itu direalisasikan dalam bentuk sikap-sikap dan perbuatan pribadi, maka akan berpengaruh pada diri pribadi sang mukmin. Di antara pengaruhnya di dalam Al Qur’an tersebut dalam Surat Al Anfal [8]:2-4 bahwa tandanya orang beriman itu adalah; (1) Jika disebut Asma’ Allah bergetar hatinya, (2) Jika mendengar ayat-ayat Al Qur’an, maka imannya akan bertambah, (3) Dalam kehidupan sehari-hari dia bertawakkal kepada Allah atau pasrah dalam segala usaha yang dilakukannya kepada Allah, (4) Konsisten dalam mendirikan sholat. (5) Selalu menafkahkan sebagian rezeki Allah.

 

 

 

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas