• 6
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Selamat Datang di Website YAYASAN PENDIDIKAN DAN SOSIAL ---CAHAYA AL-QUR'AN --- MEMBANGUN EKOSISTEM DAN INSAN YANG CINTA AL-QUR'AN & AS-SUNNAH | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Kontak Kami


CAHAYA AL-QUR'AN

NPSN : 20210743

Jalan Diponegoro No. 80 Jogoyudan Lumajang


[email protected]

TLP : 0857.81.889900


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah cahaya al-quran ?
Bagus dan Sangat Bermanfaat
Menarik
Biasa saja
  Lihat

Statistik


Total Hits : 64586
Pengunjung : 30394
Hari ini : 29
Hits hari ini : 123
Member Online : 2
IP : 216.73.217.26
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

  • Nur Hafidz, S.Pd. (Guru)
    2021-04-29 11:33:29

    Syarat diterimanya 'amal shalih adalah ikhlas dan mengikuti contoh dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam

TAFSIR ILMU PERBINTANGAN QS AL AN




Tafsir QS. Al An ‘aam (6) : 97

Oleh : Elda Sofiana

 

      Allah menjelaskan tentang kegunaan benda-benda langit lainnya, yaitu benda-benda langit selain matahari dan bulan, yang terkenal dengan bintang-bintang yang digunakan oleh manusia sebagai penunjuk waktu, musim serta arah di waktu malam.

 

Bintang dijadikan sebagai penunjuk waktu ialah dengan jalan melihat terbit dan tenggelamnya kelompok-kelompok bintang itu.

 

      Sebagai tanda waktu, diambil sebagai pedoman bahwa pada tanggal 21 Maret tiap-tiap tahun matahari bersama-sama tenggelam dengan Aries pada jam 6.00 sore (18.00). Seterusnya tiap-tiap bintang itu tenggelam lebih dahulu dari matahari sekitar 1 derajat atau 4 menit.

 

Hukum Membaca Ramalan Bintang, Zodiak dan Shio.

 

      Bintang, horoskop, zodiak dan rasi bintang termasuk di antara amalan jahiliyah. Ketahuilah bahwa Islam datang untuk menghapus ajaran tersebut dan menjelaskan akan kesyirikannya. Karena di dalam ajaran tersebut terdapat ketergantungan pada selain Allah, ada keyakinan bahwa bahaya dan manfaat itu datang dari selain Allah, juga terdapat pembenaran terhadap pernyataan tukang ramal yang mengaku-ngaku mengetahui perkara ghaib dengan penuh kedustaan, inilah mengapa disebut syirik. Tukang ramal benar-benar telah menempuh cara untuk merampas harta orang lain dengan jalan yang batil dan mereka pun ingin merusak akidah kaum muslimin. Dalil yang menunjukkan perihal tadi adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab sunannya dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Dalam sebuah hadits riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW bersabda:

 

 مَن اقتبَسَ شُعبةً مِن النُّجومِ، فقدِ اقتبَسَ شُعبةً مِن السِّحرِ، زاد ما زادَ.

 

“Barang siapa yang mempelajari satu ilmu dari bintang-bintang (astrologi) maka dia telah mempelajari satu bagian dari sihir. Sihirnya akan bertambah dengan bertambahnya ilmu perbintangan itu.”

 

      Begitu pula hadits yang diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan sanad yang jayyid dari ‘Imron bin Hushoin, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

 

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَطَيَّرَ أَوْ تُطُيِّرَ لَهُ أَوْ تَكَهَّنَ أَوْ تُكُهِّنَ لَهُ أَوْ سَحَّرَ أَوْ سُحِّرَ لَهُ

 

“Bukan termasuk golongan kami, siapa saja yang beranggapan sial atau membenarkan orang yang beranggapan sial, atau siapa saja yang mendatangi tukang ramal atau membenarkan ucapannya, atau siapa saja yang melakukan perbuatan sihir atau membenarkannya.”

 

      Siapa saja yang mengklaim mengetahui perkara ghaib, maka ia termasuk dalam golongan kaahin (tukang ramal) atau orang yang berserikat di dalamnya. Karena ilmu ghaib hanya menjadi hak prerogatif Allah sebagaimana disebutkan dalam ayat,

 

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

 

“Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” (QS. An Naml: 65).

 

      Nasehatku bagi siapa saja yang menggantungkan diri pada berbagai ramalan bintang, hendaklah ia bertaubat dan banyak memohon ampun pada Allah (banyak beristighfar). Hendaklah yang jadi sandaran hatinya dalam segala urusan adalah Allah semata, ditambah dengan melakukan sebab-sebab yang dibolehkan secara syar’i. Hendaklah ia tinggalkan ramalan-ramalan bintang yang termasuk perkara jahiliyah, jauhilah dan berhati-hatilah dengan bertanya pada tukang ramal atau membenarkan perkataan mereka. Lakukan hal ini dalam rangka taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dalam rangka menjaga agama dan akidah.

CATATAN : Allah Subhanahu Wa Ta’la, Rasulullah Shallallahu A’laihi Wasallam, dan para Ulama telah mengharamkan belajar ilmu perbintangan, jadi kita sudahi pendapat tersebut.

      Yang dimaksud dengan bintang-bintang penunjuk waktu di sini ialah bintang-bintang tetap (fixed stars), yaitu bintang-bintang yang bersinar sendiri dan mempunyai rasi (konstelasi) yang tetap, bukan bintang-bintang yang bergerak (planet, as-sayarat) karena bintang-bintang ini selalu berkelana di antara konstelasi-konstelasi bintang yang lain. Sebagai penunjuk musim, dapat diketahui dari kedudukan matahari di antara bintang-bintang tetap itu (manzie).

 

Cara menggunakan petunjuk bintang bidang atronomi dalam tafsir Ibnu Katsir.

 

       Dalam tafsir ibnu Katsir, di dalam surat Al An’am ayat 96 firman Allah “serta menjadikan Matahari dan Bulan dengan perhitungan”, yakni keduanya berjalan menurut perhitungan yang sempurna, terukur, tidak berubah, dan tidak kacau.

 

        Masing-masing memiliki orbit yang dilaluinya pada musim hujan dan musim panas yang berimplikasi terhadap pergantian siang dan malam.

 

        Tinjauan umum tentang ilmu perbintangan di dalam Al Qur’an dinamai ilmu Falak yakni ilmu astronomi yang terdapat di dalam Al Qur’an berisi tentang tatanan ilmu-ilmu di langit seperti matahari, bulan dan bintang-bintang. Secara bahasa kata “falak” berasal dari bahasa Arab falakun yang mempunyai makna orbit atau lintasan benda-benda langit ( madar al-nujum). Oleh karenanya ilmu falak dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang lintasan benda-benda langit khususnya bumi, bulan, dan matahari. Benda-benda langit selalu berjalan pada lintasan atau orbitnya, sehingga kita dapat mengetahui letak antara benda langit yang satu dengan benda langit sang lainnya dan juga untuk mengethui waktu-waktu di permukaan bumi. Ilmu ini disebut juga ilmu Hisab karena ilmu ini mengandung benyak perhitungan, ada juga yang menyebutnya dengan ilmu Roshd karena ilmu ini memerlukan pengamatan dan obserfasi, sering juga disebut sebagai ilmu Miqot karena ilmu ini membahas tentang batasan-batasan waktu. Dari beberapa istilah di atas yang paling popular di kalangan masyarakat adalah “Ilmu Falak” dan Ilmu Hisab”.

 

          Ilmu Hisab lebih popular di kalangan masyarakat karena sebagian kegiatan yang paling menonjol di dalamnya adalah perhitungan-perhitungan, baik perhitungan arah kiblat, awal bulan gerhana, ataupun yang lainnya. Akan tetapi dalam ilmu falak pada dasarnya menggunakan dua pendekatan dalam mengetahui waktu-waktu ibadah dan posisi benda-benda langit, yakni pendekatan hisab (perhitungan) dan pendekatan rukyat (pengamatan) benda-benda langit, karenanya terkadang disebut juga dengan ilmu hisab rukyat.

 

           Ilmu falak juga dapat disebut dengan ilmu astronomi, karena di dalamnya juga membahas tentang bumi dan antariksa (kosmografi). Perhitungan-perhitungan dalam ilmu falak berkaitan dengan benda-benda langit, walaupun hanya sebagian kecil dari benda-benda langit yang menjadi objek perhitungan. Karena secara istilah astronomi adalah suatu cabang ilmu yang mempelajari tentang peredaran benda-benda langit, baik fisiknya, geraknya, ukurannya, dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya.

 

ILMU BINTANG MENURUT RAMALAN

 

      Untuk mudahnya dapat dilihat pada saat matahari terbenam. Apabila Matahari terbenam bersama-sama dengan rasi Hamal (Aries), berarti saat itu tanggal 21 Maret musim semi sudah mulai tiba, sedangkan apabila matahari terbenam bersama-sama dengan Sarathan (Cancer) saat itu tanggal 21 Juni; musim panas telah mulai tiba.

 

      Apabila matahari tenggelam bersama-sama dengan rasi Mizan (Libra), berarti saat itu tanggal 23 September; musim gugur mulai tiba, dan apabila matahari tenggelam bersama-sama rasi Jadyu (Capricornus) berarti saat itu tanggal 22 Desember, musim dingin sudah mulai tiba.

 

Musim-musim ini berlaku bagi negeri-negeri di belahan bumi Utara Khatulistiwa, sedang untuk negeri-negeri di belahan bumi Selatan Khatulistiwa berlaku sebaliknya.

 

      Bintang-bintang sebagai penunjuk arah yang biasa dipergunakan orang ialah bintang-bintang tetap di luar minthaqatul buruj (Zodiac) yaitu bintang salib selatan (as-shalibul Januby Crux) yaitu dengan jalan menarik garis lurus dari gamma cruxis ke alpha cruxis dan memotong ufuk. Titik perpotongan ialah titik selatan. Bintang biduk atau beruang besar (ad-Dubbul Akbar, Ursa Mayor) yaitu dengan jalan menarik garis lurus dari beta ursaayorise melalui alpha ursae mayoris dan memotong ufuk. Titik perpotongan itulah utara. Lebih lanjut uraian ilmiah tentang manfaat bintang-bintang adalah sebagai berikut: Bintang-bintang dijadikan petunjuk dalam kegelapan di darat dan di laut, memiliki makna bahwa bintang-bintang dapat digunakan sebagai indikator navigasi dalam perjalanan / pengembaraan/pelayaran. Dalam sejarah peradaban manusia, para pelaut dari bangsa-bangsa Viking, Romawi, Yunani, Arab, Spanyol, Portugis telah menggunakan pengetahuan mereka tentang posisi rasi-bintang sebagai indikator navigasi dalam pelayaran mereka yang jauh. Rasi Bintang Salib-Selatan (Southern Cross) telah digunakan oleh para pelaut Inggris sebagai indikator navigasinya.

 

       Dalam bahasa ilmiah, indikator navigasi yang menggunakan atau berbasis pada posisi bintang-bintang di langit ini disebut stellar navigation.

 

       Stellar navigation juga telah digunakan oleh para pengembara darat untuk menentukan arah perjalanannya. Dalam dunia modern sekarang ini, ternyata stellar navigation juga telah digunakan oleh pesawat antariksa, seperti jenis pesawat Ulang-alik (Space Shuttle): Columbia, Challenger, dan Enterprise. Kegunaan lain bintang-bintang itu adalah sebagai penunjuk arah kiblat, letak Kota Mekah persis di sebelah selatan Kota Madinah.

 

Awal mula pemakaian bintang sebagai petunjuk arah.

 

Ilmu perbintangan (astronomi) dicetuskan pertama kali oleh Nabi Idris AS.

REPUBLIKA.CO.ID, -- Oleh: Nidia Zuraya

 

      Islam dikenal sebagai salah satu peradaban di dunia yang konsen terhadap pengembangan ilmu pengetahuan. Salah satu disiplin ilmu yang dikembangluaskan oleh kaum Muslim adalah ilmu falak atau lebih dikenal dengan sebutan ilmu astronomi di dunia modern saat ini.

 

      Pada hakikatnya, ilmu falak yang berkembang dalam Islam sebenarnya muncul dari ilmu perbintangan yang merupakan warisan dari bangsa Sumeria kuno (4500-1700 SM).

 

      Dalam Ensiklopedi Islam disebutkan bahwa ilmu falak telah ada dalam kurun waktu ribuan tahun silam di Kerajaan Babilonia yang terletak di antara Sungai Tigris dan Sungai Efrat (wilayah selatan Irak kini). Bangsa Sumeria kuno yang mendiami wilayah tersebut dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tertinggi dan tertua di dunia.

 

      Nabi Idris AS yang diutus oleh Allah kepada bangsa Sumeria kuno dikenal sebagai orang yang pertama kali menggunakan bintang sebagai petunjuk arah, waktu bercocok tanam, memperkirakan kondisi cuaca, dan lain sebagainya.

 

      Nabi Idris AS diakui oleh banyak ulama dan para ahli tafsir adalah seorang nabi yang memiliki banyak keistimewaan. Keistimewaan itu di antaranya adalah kemampuannya dalam menulis, menggambar, menjahit, menguasai ilmu perbintangan (astronomi), dan lain sebagainya. Dalam kitab Tarikh al-Hukama disebutkan bahwa Idris bernama Hurmus Al-Haramisah. Dinamakan Hurmus karena ia ahli dalam ilmu perbintangan. Dan dinamakan Idris, karena ia pandai menulis atau suka belajar (daras). Para ahli sejarah menetapkan Nabi Idris hidup sekitar tahun 4500-4188 Sebelum Masehi (SM). Afif Abdul Fatah dalam bukunya yang berjudul Nabi-Nabi dalam Alquran, mengutip sejumlah keterangan ulama menyebutkan, Idris dilahirkan di Munaf (Memphis), Mesir, kemudian berdakwah menyiarkan agama Allah hingga wilayah Irak kuno.

 

      Kelompok lain berpendapat, Idris dilahirkan dan dibesarkan di Babilonia. Menurut sebuah riwayat, bangsa Sumeria kuno telah mempelajari ilmu perbintangan untuk mengetahui masa bercocok tanam yang baik. Misalnya, rasi bintang Taurus yang dipercaya sebagai masa awal musim semi dan cocok untuk menanam, sedangkan rasi bintang Virgo dipergunakan sebagai saat tepat untuk memanen.

 

Perkembangan Ilmu Falak dari Era Nabi Muhammad SAW.

 

Bangsa Sumeria kuno juga dikenal sebagai bangsa pertama yang membuat pembagian bulan dalam setahun menjadi 12 bulan (zodiak) sekaligus membaginya dalam tabel.

 

Adalah para pendeta Kerajaan Babilonia yang menemukan dua belas gugusan besar bintang-bintang di cakrawala, yang mereka bayangkan sebagai satu lingkaran.

 

      Dengan menghitung jalannya bulan, dihasilkan hari. Dengan menghitung jalannya matahari dihasilkan tanggal, bulan, serta tahun hingga akhirnya terjadi ilmu penanggalan. Dalam Alquran telah dijelaskan tentang pembagian bulan dalam setahun, yakni sebanyak 12 bulan (Lihat surah at-Taubah ayat 36). Apa yang dilakukan Nabi Idris AS diteruskan oleh generasi berikutnya untuk mengembangkan teori perbintangan, membuat kalender, menentukan awal bulan, gerhana matahari dan bulan, serta ilmu lainnya yang berkaitan dengan ilmu perbintangan.

 

      Pada masa Nabi Muhammad SAW, ilmu falak belum mengalami perkembangan yang signifikan. Karena pada saat itu umat Islam disibukkan dengan upaya-upaya menyebarluaskan ajaran Islam ke seluruh pelosok dunia. Sehingga aktivitas untuk mengkaji tentang astronomi sangat kurang sekali. Jika pun ada, itu hanyalah sebatas pengetahuan-pengetahuan langsung yang diberikan Allah SWT kepada Nabi SAW, dan belum ada kajian ilmiahnya yang berdasarkan ilmu pengetahuan.

 

Masa Keemasan.

 

      Setelah Islam menyebar sampai di luar Makkah dan Madinah, mulailah para sahabat mengkaji khazanah ilmu falak. Namun, sebagaimana dijelaskan Dr Muhammad Bashil Al- Thoiy dalam bukunya yang bertajuk Al-Falak wa al-Taqwim, kajian tentang ilmu falak secara mendalam baru dimulai pada masa pemerintah an Dinasti Umayyah, yaitu tepatnya pada masa pemerintahan Khalifah Khalid bin Yazid bin Muawiyah. Khalifah Khalid dikenal sebagai pemimpin yang cinta akan ilmu pengetahuan. Karenanya semasa ia memerintah, terjadi perubahan-perubahan mendasar, terutama pada perkembangan keilmuan untuk mengkaji ilmu pengetahuan (sains). Hal ini terbukti dengan banyaknya penerjemahan buku-buku yang berkenaan dengan astronomi, kedokteran, fisika, dan disiplin ilmu yang lainnya. Akan tetapi kajian terhadap ilmu falak mengalami perkembangan pesat di masa kekhalifahan Abbasiyah.Dimulailah era munculnya ilmuwan-ilmuwan falak Islam dan ahli astronomi Muslim......

 

Cara mengupdate penggunaan bintang zaman sekarang

 

      Teleskop atau teropong adalah sebuah instrumen pengamatan yang berfungsi mengumpulkan radiasi elektromagnetik dan sekaligus membentuk citra dari benda yang diamati.Teleskop merupakan alat paling penting dalam pengamatan astronomi. Jenis teleskop (biasanya optik) yang dipakai untuk maksud bukan astronomis antara lain adalah transit, monokular, binokular, lensa kamera, atau keker. Teleskop memperbesar ukuran sudut benda, dan juga kecerahannya.

Observatorium Boscha

 

      Di Indonesia sendiri memiliki tempat untuk melakukan pengamatan luar angkasa menggunakan teropong bintang. Tempat pengamatan tersebut disebut denga observatorium Boscha yang ada di Lembang, Jawa Barat. pada tanggal 17 Oktober 1951, NISV menyerahkan pengelolaan observatorium ini kepada pemerintahan Indonesia. Dan setelah Institut Teknologi Bandung berdiri pada tahun 1959, makan Observatorium Bossha dijadikan sebagai bagian dari ITB dan dimanfaatkan untuk kegiatan belajar dan penelitian secara formal. Observatorium Bosscha sendiri pada saat ini memiliki lima buah teropong bintang yang mempunyai fungsi masing-masing. Kelima teleskop tersebut antara lain adalah teleskop Refraktor Ganda Zeiss, Teleskop Schmidt Bima Sakti, Teleskop Refraktor Bamberg, Teleskop Cassegrain GOTO dan Teleskop Refraktor Unitron. Untuk teleskop yang terakhir ini, sering digunakan untuk melakukan pengamatan pada kemunculan hilal atau bulan. Di mana hal ini biasanya terjadi pada saat memasuki bulan Ramadhan untuk menentukan awal dan akhir puasa. Sebab, sebagian besar rakyat Indonesia yang mayoritas beragama Islam menggunakan kalender yang didasarkan pada peredaran hilal untuk menentukan hari-hari tersebut.

 

Penutup

 

      Allah menjelaskan kekuasaan-Nya dalam menciptakan langit, bumi serta segala isinya dan segala macam bentuk kehidupan serta tata hukum yang berlaku untuknya secara terperinci. Penjelasan ini dimaksudkan, bahwa dengan meneliti keagungan ciptaan Tuhan tersebut, pikiran manusia menjadi terbuka untuk menerima keyakinan tentang adanya Pencipta langit, bumi serta segala isinya serta kekuasaan yang dimiliki-Nya.

 

      Allah menyebutkan bahwa penjelasan yang diberikan secara terpeinci itu ditujukan kepada orang-orang yang mempunyai pikiran yang bersih dan terpelihara dari pengaruh-pengaruh hawa nafsu, yaitu orang-orang yang meneliti benda-benda alam secara murni, terlepas dari tujuan-tujuan tertentu yang menjurus kepada kepentingan pribadi, golongan dan fanatik kebangsaan. Orang-orang yang meneliti benda-benda alam secara murni itulah yang akan dapat menemukan jawaban rahasia kejadian alam semesta yang menghantarkan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 

No

Bahasan

Sumber

1

Hukum Membaca Ramalan Bintang, Zodiak dan Shio

Sumber: https://muslim.or.id/7970-hukum-membaca-ramalan-bintang-zodiak-dan-shio.html

2

Tafsir QS AL An'am ayat 97

https://risalahmuslim.id/quran/al-an-aam/6-97/

3

Cara menggunakan ilmu astronomi menurut tafsir Ibnu Katsir

http://eprints.walisongo.ac.id/id/eprint/1039/3/092111093_Bab2.pdf

4

Fenomena bintang senja dalam prespektif Al Qur'an dan Sains

http://repository.radenintan.ac.id/13094/1/SKRIPSI%20BAB%201%262.pdf

5

Empat prespektif penceritaan bintang di dalam Al Qur'an

 

a.      M. Ma’rufin Sudibyo, Ensiklopedia Fenomena Alam dalam Al-Qur’an: Menguak Rahasia Ayat-Ayat Kauniyah (Solo: Tinta Medina, 2012), h. 1-2.

b.     M. Ma’rufin Sudibyo, Ensiklopedia  Fenomena  Alam dalam al-Qur’an, h. 405-406.

6

Salah satu penggambaran kiamat dalam al-Qur’an ialah dengan dihapuskannya bintangbintang-bintang

a.      (qs. al-Takwir 81:2), bintang-bintang  jatuh berserakan (QS. 82: 2), dan lain sebagainya.

b.      M. Ma’rufin Sudibyo, Ensiklopedia  Fenomena  Alam dalam al-Qur’an: Menguak Rahasia  Ayat-Ayat Kauniyah , h.401.

c.      Bintang, Wikipedia.org, http://id.wikipedia.org/wiki/Bintang.

d.      Kementerian Agama Republik Indonesia, al-Qur’an dan Terjemahnya (Surabaya: Halim,2014), h. 263.

e.      M. Ma’rufin Sudibyo, Ensiklopedia  Fenomena  Alam dalam al-Qur’an, h.401-402.

7

Gabungan bintang yang berdekatan letaknya dan tampak tidak berubah letaknya

www. primbon.com/ zodiak.htm.

8

pengaruh besar peradaban islam dalam kemajuan ilmu Astronomi

https://www.republika.co.id/berita/qxoc57440/pengaruh-besar-peradaban-islam-dalam-kemajuan-ilmu-astronomi

9

Update informasi tentang perbintangan masa kini

https://id.wikipedia.org/wiki/Teleskop

 

 

 




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas