• 6
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Selamat Datang di Website YAYASAN PENDIDIKAN DAN SOSIAL ---CAHAYA AL-QUR'AN --- MEMBANGUN EKOSISTEM DAN INSAN YANG CINTA AL-QUR'AN & AS-SUNNAH | Terima Kasih Kunjungannya.

Pencarian

Kontak Kami


CAHAYA AL-QUR'AN

NPSN : 20210743

Jalan Diponegoro No. 80 Jogoyudan Lumajang


[email protected]

TLP : 0857.81.889900


          

Banner

Jajak Pendapat

Bagaimana pendapat anda mengenai web sekolah cahaya al-quran ?
Bagus dan Sangat Bermanfaat
Menarik
Biasa saja
  Lihat

Statistik


Total Hits : 64591
Pengunjung : 30394
Hari ini : 29
Hits hari ini : 128
Member Online : 2
IP : 216.73.217.26
Proxy : -
Browser : Gecko Mozilla

Status Member

  • Nur Hafidz, S.Pd. (Guru)
    2021-04-29 11:33:29

    Syarat diterimanya 'amal shalih adalah ikhlas dan mengikuti contoh dari Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam

TAFSIR AL AZHAR Q.S AL MUZZAMMIL AYAT 1-20




TAFSIR AL AZHAR

Q.S AL MUZZAMMIL AYAT 1-20

Orang Yang Berselimut

 

Oleh : Malika Aurum

 

“Wahai orang yang berselimut.”

 

       Ucapan Allah terhadap Rosul-Nya yang penuh dengan kasih sayang yang mendalam, baik karena Rosululloh SAW yang sedang enak tidur lalu dibangunkan atau karena berat tanggung jawab yang dipikulkan atas diri Beliau SAW.

 

“Bangunlah di malam hari.”

 

        Yaitu bangun untuk melaksanakan sholat. Perintah Alloh untuk mengerjakan sholat selalu disebut dengan “Qiyam” didalam Al-Qur’an yang artinya “kerjakanlah sholat”. Sebab dengan menyebut bangunlah atau berdirikanlah atau mendirikan sholat, jelas bahwa sholat itu didirikan dengan sungguh-sungguh dan dengan kesadaran yang penuh.

 

       Selain dari melaksanakan sholat malam itu, baik dua pertiga malam, separuh malam, atau sepertiga malam, hendaklah pula Al-Qur’an yang telah diturunkan kepada Rosul SAW selalu dibaca dengan perlahan-lahan, jangan dibaca dengan tergesa-gesa. Biar sedikit, asal isi kata-kata Al Qur’an itu masuk kedalam hati dan kita faham akan maksut ayat-ayat Al Qur’an yang kita baca.

 

       Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dari Anas bin Malik, ada yang bertanya kepada Anas bin Malik tentang bagaimana cara Nabi SAW membaca Al Qur’an. Lalu Anas bin Malik memberikan keterangan bahwa Nabi SAW apabila membaca Al Qur’an ialah dengan suara tenang, dan tidak terburu-buru.

 

       Begitu pula menurut riwayat Ibnu Juraij yang diterima dari Ummu Salamah, istri Rosululloh SAW kalau beliau membaca surat Al Fatihah, setiap ayat itu beliau baca seayat demi seayat dengan terpisah. BismillahirRahmanirRahiim lalu Beliau berhenti , lalu Beliau membaca Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin, demikian pula seterusnya. Sebab itu tidaklah Beliau membacanya dengan tergesa-gesa, tapi dengan perlahan-lahan penuh dengan ketadaburan. Itulah contoh teladan dari Nabi SAW yang patut kita contoh.  

 

       Oleh sebab itu kita seimbangkan antara kedua ibadah ini, yaitu sholat malam dan membaca Al Qur’an dengan tartil. Supaya jiwa lebih kuat dan hati bertambah dekat kepada Allah, sehingga apa-apa yang yang kita mohonkan kepada Allah akan mudah terkabulkan.

 

“Sesungguhnya Kami hendak menurunkan kepada engkau perkataan yang berat.”

 

       Wahyu Allah ini sungguh benar-benar perkataan yang berat. Berat bagi ruhani maupun jasmani. Kedatangan Malaikat Jibril membawa wahyu bukanlah perkara yang ringan. Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, bahwa Abdulloh bin amir pernah bertanya kepada Nabi SAW bagaimana permulaan datangnya wahyu kepada Beliau. Lalu Beliau menjawab “Mula-mula Saya dengar seperti bunyi lonceng yang suaranya sangat memekakkan telinga, hingga membuat Saya tidak kuat, seperti akan meninggal.”

 

       Aisyah r.a mengatakan bahwa dia pernah melihat ketika suatu hari Rosululloh SAW menerima wahyu, ketika itu hari sangat dingin. Namun keringat mengalir deras di dahi Rosululloh SAW. Ibnu jarir dalam tafsirnya mengatakan bahwa wahyu itu berat dari dua pihak; berat bagi badan, juga berat tanggung jawabnya.

 

       “Sungguh bangun malam itu adalah lebih kuat (mengisi jiwa) dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan.”

 

       Waktu pada malam hari itu gangguan sangat berkurang. Malam adalah hening, dan keheningan malam berpengaruh pada keheningan fikiran. Membaca Al Qur’an di waktu malam hari, baik sedang sholat ataupun tidak, asalkan dibaca dengan perlahan-lahan, tenang, dan tartil tidak akan mengganggu orang lain yang sedang tidur.

 

       Di dalam suatu hadits Qudsi, Allah berfirman bahwa pada sepertiga malam Allah turun ke langit dunia untuk mendegarkan keluhan-keluhan hamba-Nya, juga untuk menerima taubat seorang hamba yang bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah. Pada waktu ini hubungan kita dengan dengan langit sangatlah dekat. Orang ahli ilmu alam menyebutkan bahwa pada waktu ini udara dipenuhi oleh ether, maka ether di waktu malam itu memperdekat hubungan. Juga memperdekat hati.

 

Yang Berat Diringankan

 

       Perintah Allah pada permulaan surat Al Muzzammil ini adalah supaya Nabi Muhammad SAW dan orang-orang yang beriman bangun sholat malam, menurut yang ditentukan Allah, telah mereka laksanakan dengan baik. Dan pada penutup surat, ayat 20 memberi penjelasan dan penghargaan Allah karena mereka telah melaksanakan perintah tersebut.

 

“Sesungguhnya Tuhan engkau (Muhammad) mengetahui bahwasanya engkau berdiri hampir dari dua pertiga malam dan seperdua malam dan sepertiganya.”

 

        Artinya segala perintah itu telah Beliau SAW jalankan sebagaimana yang telah Allah perintahkan, yang dekat dengan dua per tiga sudah, yang seperdua malam pun sudah, demikian juga yang sepertiga malam, semuanya sudah dilaksanakan dengan baik oleh Rosul SAW juga para orang beriman.  

 

       “Dan satu golongan dari orang-orang yang bersama engkau”

 

       Artinya bahwa Beliau (Nabi SAW) telah memberikan teladan tentang bangun sholat malam itu kepada pengikut-pengikut setia Beliau dan mereka pun telah berbuat demikian pula bersama Nabi Muhammad SAW.

 

       Berdasarkan pada hadits yang pernah diriwayatkan oleh Ubadah bin Shamit, bahwa Nabi SAW pernah bersabda; “Tidaklah ada sholat, bagi orang yang tidak membaca Fatihatil Kitab”  (HR Bukhori dan Muslim). Maka para ulama menyatakan pendapat bahwa yang termudah dari Al Qur’an itu ialah surat Al fatihah. Tetapi para ulama dalam madzab Hanafi ada yang berpendapat bahwa meskipun bukan surat Al Fatihah yang dibaca, asalkan ia ayat dalam Al Qur’an, walaupun itu satu ayat, sholatnya tetap sah.

 

       “Dan dirikanlah sholat dan tunaikanlah zakat.”

 

       Perintah mengerjakan sholat di dalam ayat ini menjadikannya jelas, bahwa Rosululloh SAW sebelum Mi’raj telah mendapatkan perintah untuk melakukan sholat, meskipun belum diatur lima waktu. Perintah memberikan zakat pun telah ada sejak dari Mekkah, meskipun mengatur nishab zakat baru diatur setelah hijrah ke Madinah. Maka orang-orang yang beriman di masa Mekkah dengan bimbingan Nabi SAW telah menunaikan sholat dan zakat.

 

       Diantara ahli tafsir mengeluarkan pendapat bahwa sejak semula Qiyamul Lail itu tetaplah nafifah atau mandub atau sunnah (yang dianjurkan), tidak ada nasikh dan mansukh dalam perkara ini. Ayatnya adalah ayat muhkam, artinya tetap berlaku. Tetapi meskipun dia perintah sunnah, namun setengah orang yang beriman mengerjakannya dengan tekun sampai tidak mengingat lagi bahwa mereka pun wajib pula berusaha mencari rezeki yang halal. Dan dikemudian hari akan datang waktunya mereka mesti pergi berperang di jalan Allah.

 

       Maka diperingatkanlah di akhir surat pada ayat 20, supaya ibadah itu dilakukan sekedarnya saja, jangan sampai memberati, juga diperingatkan oleh Allah agar mengingat juga kewajiban-kewajiban lain yang akan kita hadapi dalam hidup ini.

 

 

WallahuA’lam bisShowaab.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :





   Kembali ke Atas