TAFSIR AL AZHAR JILID 6 JUZ 17 SURAT AL ANBIYAA’
TAFSIR AL AZHAR JILID 6
JUZ 17 SURAT AL ANBIYAA’
Oleh:Elda Sofiana
“Dan Ayyub!” Artinya, ingatlah akan Ayyub. “Tatkala dia berseru kepada Tuhannya, Sesungguhnya aku telah disentuh oleh suatu malapetaka.” (Surat Al Anbiya ayat 83.
Dalam rangka nabi Ayyub berdoa kepada Allah, maka perhatikanlah! Alangkah halusnya budi bahasa yang dipakai nabi Ayyub didalam pengaduannya kepada Allah. Dipakainya kalimat “massaniya” artinya menyentuh aku. beliau tidak mengatakan misalnya, “Aku ditimpa bala bencana.” Artinya beliau berdoa karena itu semua atas kehendak Allah semata dan bentuk kesopanan kepada Allah. Lalu beliau menutup doa tersebut dengan perkataan yang halus pula.
“Sedang Engkau adalah lebih Pengasih dari segala yang Pengasih.” (Surat Al Anbiya ayat 83).
Kasih Allah tidak mengharap balas, kasih Allah tidak mengharapkan terima kasih. Ini bisa dicontohkan kasih sayang anak terhadap anaknya, yaitu kasih sayang yang bisa terkandung berbagai harapan. Karena anak itulah yang akan menyambung dan melanjutkan hidupnya. Kasih ayang Allah tidaklah mengharap apa-apa dari hambanya. Dan setulus-tulus hati orang yang menunjukkan kasih sayang. Bagaimanapun kasih sayang Allah, pertolongan Allah tidak bisa disamakan dengan kasih sayang manusia yang pasti akan timbul pengharapan-pengharapan, Allah selalu memberi pertolongan dan memberi kelapangan.
Inilah permohonan Nabi Ayyub kepada Allah, yang bahasanya sangat sopan, tidak menuntut, tidak menyesal dan tidak mengadu. Nabi Ayyub berdo’a hanya memohon belas kasihan Allah semata. “Maka kami perkenankan baginya dan kami hilangkan segala malapetaka yang ada padanya itu.” (Surat Al Anbiya ayat 84). Artinya, Nabi Ayyub memohon kepada Allah dengan tulus dan ikhlas, sabar dan tidak berputus asa, maka doanya itu dikabulkan Allah.
Inilah mengapa Allah mengabulkan doa-doa Nabi Ayyub.
Pertama, Nabi Ayyub sabar, tahan menderita, tidak mengeluh.
Kedua,Nabi Ayyub adalah hamba Allah yang sangat baik.
Ketiga,Nabi Ayyub selalu kembali kepada Allah. Artinya tidak putus asa dalam beribadah.
“Dan kami kembalikan kepadanya keluarganya” yaitu sesudah menderita berbagai malapetaka bertahun-tahun, lantaran sabar dan tulus hatinya, Allah pun menghilangkan penyakit dan penderitaannya. Karena Rahmat Allah yang datang setelah selesai dari cobaan yang berat, sangatlah dalam kesannya didalam jiwa.
“Dan sebagai peringatan untuk orang-orang yang menghambakan diri”. (Surat Al Anbiya ayat 84).
Ayat ini menunjukkan peringatan kepada orang-orang yang dengan tulus dan ikhlas menghambakan diri kepada Allah. Bilamana bertambah penghambaan seseorang kepada Allah mendekati para nabi-nabi, bertambah besar pula cobaan yang datang. Malapetaka yang datang menimpa bukanlah tanda kehinaan dan sengsara. Sebab dalam islam tidak ada hubungannya dengan amal saleh atau kerja jahat. Karena dunia ini bukanlah negeri tempat menerima ganjaran kebaikan. Seperti cerita Nabi Ayyub yang ketika beliau mendapatkan cobaan, harta yang habis, ditinggalkan keluarganya sendiri, menderita dirinya sendiri, namun beliau tetap sabar dan bersyukur; maka datanglah rahmat Allah kepadanya, dikembalikan pula harta benda yang hilang berlipat ganda, diberi anak beberapa orang, diberi umur yang panjang, sampai beliau dapat melihat keturunan-keturunannya, sampai keturunan keempat. Itulah juga sebabnya bahwa yang difirmankan Allah kepada seluruh umat manusia tentanng Nabi Ayyub jadi peringatan bagi orang-orang yang menghambakan diri kepada Allah. Bahwa besarnya cobaan, asal sabar cobaan itu berganti akhirnya kelak dengan kebahagiaan juga. Maksud ayat ini juga mengukuhkan hati orang yang beriman agar sabar didalam berjuang kebenaran.
Yang dimaksud dengan kesulitan yang dihadapi para nabi-nabi dan cobaan untuk mereka dengan sabar ialah seumpama kesukaran yang dihadapi Nabi Nuh 950 tahun memimpin kaumnya, sampai membuat kapal, sedang istri dan anaknya terpaksa tidak ikut. Namun dengan kesabaran itulah yang menjadi pelajaran bagi kita. Peringatan ini semuanya bagi yang memperhambakan dirinya kepada Allah SWT.
NABI YUNUS
“Dan kawan ikan nun.” (Surat Al Anbiya ayat 87).
Yang dimaksud ayat ini ialah Nabi Yunus. Di ayat ini disebutkan kawan ikan nun, karena tiga hari tiga malam lamanya nabi Yunus terkurung di dalam perut ikan nun. Nun adalah nama dari ikan yang teramat besar di laut, yang kita sebut ikan paus. Di dalam surat ash-Shaffat, ayat 142, diterangkan Nabi Yunus ditelan ikan itu. “Seketika dia pergi dalam keadaan marah.” Marah kepada kaumnya, orang Ninawa. Nabi Yunus marah kepada mereka, karena Nabi Yunus diutus Allah menyampaikan dakwah kepada kaumnya, namun mereka tidak menerimanya, mereka tetap saja dalam kekafirannya. Lalu dia pun pergi dari tempat itu, ditinggalkannya tugas dan tanggung jawab. “Maka dia menyangka bahwa Kami tidak memperhitungkan atasnya.”Nabi Yunus menyangka bahwa Allah tidak akan menuntut tanggung jawabnya, Allah tidak akan memberi peringatan kepadanya. Maka, kemudia Nabi Yunus pergi dari negeri itu, Nabi Yunus pergi ke pelabuhan dan hendak berlayar jauh. Ahli ahli tafsir menyebutkan bahwa dia pergi ke Pelabuhan Jafa, hendak berlayar ke Tibris. Lalu dia menumpang pada satu kapal. Setelah kapal pergi meninggalkan daratan tiba-tiba datanglah angin ribut yang amat besar, ombak pun juga bergulung-gulung laksana gunung. Maka berkata nahkoda, bahwa kapal tersebut bisa saja tenggelam karena muatan beban yang berat dan lebih didalam kapal. Beberapa barang berat telah dilemparkan ke dalam laut, namun bahaya masih mengancam. Nahkoda kapal mengatakan, bahwa salah satu seorang penumpang harus keluar kalau tidak kapal akan tenggelam dan semua isi di dalam kapal akan menjadi korban. Kemudian nahkoda tersebut menjalankan undian, siapa yang kena undi adalah dia harus lompat ke dalam laut tersebut. Undian pun dijalankan. Dengan takdir Allah, undian tersebut jatuh kepada Nabi Yunus.
Sebagai seorang nabi Allah, Nabi Yunus sangat merasakan akan hal itu, di dalam jiwanya memang beginilah yang telah ditentukan oleh Allah sebagai peringatan. Oleh sebab itu saat undian jatuh kepada Nabi Yunus, tidaklah ditunggu-tunggu lagi beliau langsung menerima dan melompat ke dalam air laut itu. Rupanya di dalam air laut itu terdapat ikan raksasa yang sangat besar. Lalu ikan itu menelannya. Di telanlah Nabi Yunus dan tidak digigit sehingga badan Nabi Yunus tetap sempurna dan utuh. Maka dia bertempat didalam yang gelap gulita, berlapis lapis, karena cahaya tidak masuk kedalam perut ikan tersebut. Dan laut pun yang amat dalam itu sangat gelap sehingga cahaya tidak bisa masuk, sangking gelapnya laut. Dan hari pun semakin malam, dan malam itu npun gelap gulita. Begitulah Nabi Yunus tiga hari dalam gelap malam. Namun jiwanya telah penuh dalam iman tetap terang, tidak gelap, tidak kehilangan akal. Dengan demikian dia tetap ingat akan Allah SWT. Karena ingat Allah, dia pun ingat akan keteledorannya akan dirinya sendiri. Lalu beliau berdoa didalam tempat yang sangat gelap gulita. Yakni beliau berdoa;
“Tidak ada Tuhan kecuali Engkau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang aniaya.” (Surat Al Anbiya ayat 87).
Dengan doa tersebut Nabi Yunus menunjukkan kepribadian yang terkandung di dalam dirinya yaitu terkandung keikhlasan, penyerahan diri sebulat-bulatnya, penyesalan, dan pengakuan salah. Beliau pun juga mengaku bahwa beliau termasuk golongan orang-orang yang menganiaya, menempuh jalan yang salah. Karena di dalam melakukan dakwah seorang nabi tidak boleh lekas marah.
“Maka kami perkenankanlah baginya.” (Surat Al Anbiya ayat 88).
Artinya bahwa Allah mengabulkan doa Nabi Yunus. Kesalahan, pengakuannya diterima dan di dengar oleh Allah SWT. Setelah tiga hari tiga malam terkurung didalam perut itu Allah mengeluarkan nabi Yunus dengan cara ikan paus itu pergi ke bibir pantai dengan sendirinya kemudian dibuka mulutnya dan dimuntahkannya. Kemudian sadarlah nabi Yunus dari pingsannya dan berangsur sembuh dari sakitmya, agar nabi Yunus tetap berdakwah , melakukan perintah Allah kepada para penduduk di negeri Niwana. Dan berfirman Allah;
“Karena seperti itulah kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (Surat Al Anbiya ayat 88).
Ayat ini menerangkan bahwa orang yang mengaku beriman kepada Allah tidaklah terlepas dari ujian dan cobaan. Nabi Yunus merasakan bahwa jatuhnya undian kepada dirinya saat naik kapal kemarin adalah peringatan dari Allah, kemudian datang ikan besar dan menelannya adalah peringatan yang kedua.
Tetapi Allah Maha Bijaksana, bahwa Nabi Yunus itu bukanlah orang yang zalim, mel;ainkan orang yang beriman. Segala penderitaan yang diterima oleh Nabi Yunus itu bukanlah azab atau peringatan dari Allah kepada orang-orang yang zalim, melainkan cobaan kepada tiap-tiap hamba-Nya bagi orang yang beriman. Sebesar apapun cobaan Allah, Allah selalu menyelamatkan hamba-Nya yang beriman.
Allah mengingatkan Nabi Yunus begitu jugalah yang yang diderita oleh nabi-nabi terdahulu.
NABI ZAKARIYA
“Dan Zakariya ketika dia menyeru Tuhannya.” (Surat Al Anbiya ayat 89).
Artinya Nabi Zakariya berdoa “Ya Tuhanku, janganlah engkau biarkan daku sendirian.” Sebagai manusia Nabi Zakariya mengeluh dan menyampaikan doanya kepada Allah semata, agar beliau jangan dibiarkan sepi hidup sendirian, tidak mempunyai keturunan.
Di dalam ayat penghujung ayat ini ada pelajaran yang mendalam untuk dijadikan treladan iman Nabi Zakariya. Ujung dari ayat ini adalah juga doa Nabi Zakariya
“Dan Engkau adalah sebaik-baik yang mewarisi.” (Surat Al Anbiya ayat 89).
Ujung doa ini adalah tawakal yang paling dalam dan murni dari seorang yang merasa dirinya telah tua, maka iman itulah yang mengobat hati iba. Harta benda semua ini titipan Allah. Allah lah yang sebenar benar berkuasa sepenuhnya. Niscaya harta kepunyaan-Nya yang selama ini diizinkannya akan kembali pula kepada pemilik-Nya yaitu Allah semata. Maka Allah yang lebih tahu, lebih pandai menentukan ke mana harta ini kelak akan di bagikan-Nya.
“Maka Kami perkenankan baginya, dan kami karuniakan kepadanya Yahya.” (Surat Al Anbiya ayat 90).
Artinya bahwa Allah mengabulkan doa Nabi Zakariya. Seperti yang difirmankan di surah Maryam ayat 7. Allah telah memeberitahukan bahwa Allah telah mengabulkan doanya, Nabi Zakariya akan diberi anak. Anak laki-laki itu bernama Yahya. Mendengar berita itu Nabi Zakariya bahagia sekaligus bingung. Bgaimana dapat beranak sedang istrinya mandul?, di dalam surat Maryam juga dijelaskan untuk menjawab pertanyaan bahwa khusus untuk rahim Maryam diperbaiki.
Yang dapat saya simpulkan dari firman Allah di dalam surat Al Anbiyaa’ adalah bahwa kita sebagai manusia biasa juga akan mendapatkan cobaan daripada nabi-nabi yang mulia tersebut, dan para Nabi adalah cobaan paling berat. Bila seringkali jiwa ini mendapatkan dosa cepatlah beristighfar dan berdoa selalu kepada Allah semata yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Masih ada harapan-harapan yang Allah beri untuk hari esok.
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- TRAINING MOTIVASI GURU AL-QURAN
- Tasmi
- RUH SANG MUROBBI
- DAMPAK HANDPHONE BAGI ANAK
- Nasihat Yang Di Rindukan
Kembali ke Atas






