JIWA YANG TIDAK MEMPUNYAI PENGHARAPAN
JIWA YANG TIDAK MEMPUNYAI PENGHARAPAN
Oleh : Elda Sofiana
“Dan berkatalah orang-orang yang tidak mengharapkan hendak menemui kami. Mengapa tidak malaikat yang diturunkan kepada kami atau mengapa kami tidak melihat Tuhan? Mereka itu amat sombong dalam dirinya dan tersebab itu mereka melakukan pelanggaran yang sangat berat.”
(Al Furqon ayat 21)
Jiwa yang amat kasar, yang tidak mempunyai tujuan hidup dan penghidupan, yang penilaiannya terhadap sesuatu hanya ada pada kulit lahir, tidaklah sanggup menilai kebenaran yang dibawa Rasul. Mereka akan mengemukakan usul yang tidak tidak. Ketika Rasul menyatakan kebenaran dan menyeru kepada jalan Allah, bukanlah seruan itu yang mereka perhatikan atau pertimbangkan. Mereka minta yang datang itu jangan manusia, mereka minta malaikat itu sendiri menyatakan diri terhadap mereka yang lebih hebat dari itu, yaitu meminta hendak melihat Allah.
Seorang yang telah beriman tidaklah akan sampai hati mengeluarkan perkataan demikian. Dengan apa yang Allah-mu itu hendak engkau lihat?, Sedangkan mata kita adalah batas pengetahuan yang tidak sebanding dengan ciptaan Allah yang Maha Luas. Jelaslah seorang yang mengemukakan seperti ini mempunyai kesombongan didalam hatinya karena seakan-akan mereka orang-orang istimewa tidak mau menerima saja kalau hanya “manusia” saja yang datang.Padahal malaikat adalah sebagai makhluk yang suci tidaklah pantas diperlihatkan orang-orang yang sombong.
Dalam menyikapi seperti ini hendaklah membuka hati terlebih dahulu, menerima ajaran Allah dan Rasul-rasulNYA. Karena seperti pada sahabat-sahabat Nabi terdahulu yang ikhlas membuka hatinya pada saat itu para sahabat-sahabat dan nabi sedang duduk bersama di Madinah kemudian didatangi oleh malaikat, yaitu Malaikat Jibril, padahal beliau semua tidak pernah meminta kepada Allah untuk melihat Malaikat Jibril. Sedangkan didalam sebuah rumah yang ada anjing saja pun malaikat tidak mau masuk, kononlah kedalam hati yang sombong yang lebih hina dari anjing.
Mujrimin orang-orang yang durjana dan sombong tidak ada artinya kabar gembira itu, mereka tidak akan melihatnya, entah kalau malaikat-malaikat penjaga yang akan menjatuhkan siksaan kepadanya. Segala amalan dan usaha yang mereka kerjakan selama hidup akan diletakkan dihadapan mereka supaya mereka lihat sendiri bahwa amalan itu akan hangus jadi debu yang berterbangan, karena tidak ada dasarnya.
Pada ayat 22 diterangkan,
“Peringatkan kepada mereka akan hari yang ada pada waktu itu mereka memang akan melihat malaikat-malaikat. Tetapi tidak ada berita gembira di hari itu untuk orang-orang yang bersslah. Dan (Malaikat itu) akan berkata, Terlarang dan tertutup rapat.”
(Al Furqon ayat 22).
Orang-orang yang durjana dan sombong tidak ada artinya kabar gembira itu, mereka tidak akan dapat melihatnya, entah kalau malaikat-malaikat penjaga yang akan menjatuhkan siksaan kepadanya. Mereka terlarang keras kepadanya, tidak ada kesempatan sama sekali. Bagi mereka kesempatan itu tertutup rapat (Hijran Mahjuran).
Bahkan seperti dijelaskan di ayat 23,
“Dan kami datang dengan sengaja kepada pekerjaan yang telah mereka kerjakan dan Kami jadikan semuanya menjadi tebu yang berterbangan”.
Segala amalan dan usaha mereka yang dikerjakan di dunia ini selama hidup Allah menjadikan perumpaan seperti debu yang hilang berterbangan .
“(Hanya) orang-orang ahli surgalah pada hari itu ynag akan mendapat sebaik-baik tempat kediaman dan seindah-indah tempat istirahat.
(Al Furqon ayat 24).
Lain halnya dengan Ashabul Jannah, orang-orang yang telah ditentukan oleh Allah menjadi Ashabul Jannah dia telah membina hidupnya dengan taat dan patuh di kala di dunia, selain diberi kesempatan oleh Allah mereka pun diberi kesempatan berteman dengan Malaikat dan hadiah puncaknya adalah melihat wajah Allah. Nah, cita-cita termulia adalah melihat Malaikat, bahkan pun melihat Allah, atau tempat tinggal yang baik, istirahat yang aman tenteram, kehidupan yang kekal bahagia, bebas dari rasa takut dan cemas, semuanya itu perkara yang bukan sukar, apabila hidup beriman, karena dengan iman kita menaiki level hidup yang lebih tinggi; yaitu hidup keruhanian. Mulanya kita melalui taraf sebagai orang Muslim, naik ke tingkat Mukmin, naik ke tingkat Muttaqin, naik ke tingkat Muqarrabain, sehingga kita kian lama kian dekat dan kenal siap Allah.
Jika jalan raya keimanan itu hanya kita lihat dari luar, atau enggan memasuki, karena takut dengan permulaan jalan yaitu duri, tidaklah kita mengenal nikmat Allah. Tetapi apabila kita telah masuk ke dalam dan ditempuhnya jalan itu maka, akan terasalah kebahagiaan jiwa yang tidak ternamai.
Bertambah timbullah kegembiraan itu, bertambah dekatlah kita kepadaNYA, dan bertambahlah Alah menjadi buah igatan kita sepanjang hari Maka, bertambahlah ringan segala rasa beban yang dibebabankanNYA kepada kita, meskipun orang lain memandangnya berat. Dan kita jalan terus, dan jalan terus, penuh dengan kegembiraan.
Al-Ankabut
Cobaan adalah ujian dari iman. Cobaan adalah seleksi atau penapisan dan penyisihan diantara iman sejati dan iman imitasi. Setelah ayat pertama itulah dijelaskan bagi orang-orang yang ingin berjuang diajalan Allah, bahwasanya suatu perjuangan akan lebih banyak menguntungkan bagi diri yang bersangkutan sendiri. Bukanlah perjuangan manusia menegakkan agama Allah menguntungkan Allah, karena Allah Maha Kaya dari seluruh alam ini. Dikatakan pula banyak orang yang berkata bahwa dirinya beriman tapi tidak tahan dengan kena cobaan manusia, sebab itu dia berjuang setengah-setengah. Tetap kalau dia mengangkat mulut mengatakan bahwa dia turut berjuang bersama-sama orang yang berjuang.
Dikatakan pula bahwa kaum musyrikin itu tetap mengakui bahwa segala sesuatu ini Allah yang menjadikan. Kalau ditanyakan, siapa yang menjadikan langit dan bumi? Mereka akan tetap mengakui bahwa yang menjadikannnya itu ialah Allah, tetapi tetap saja mereka menyekutukan Allah.
Didalam surat ini juga dijelaskan akibat terakhir dari golongan yang menantang ajaran Allah. Diterangkan juga bahwa pegangan mereka sama saja dengan sarang laba-laba yang lemah dan rapuh. Sebagaimana isi dari surah-surah Mekkah yang lain setelah selesai menerangkan perjuangan diantara yang hak dengan yang bathil di zaman lampau.
Banyak dijelaskan juga tentang Surat ini yaitu tentang iman secara mendalam, yang akan diberikan penghargaan besar bagi para Mujahid, para pejuang dijalan Allah yaitu barang siapa yang bersungguh-sungguh, Allah berjanji akan menunjukinya jalan, hingga dia berhasil.
Maka, disimpulkan bahwa surat Al Ankabut atau surat Laba-Laba, berisi tentang iman dan perjuangan. Sebagai satu surat yang diturunkan di Mekkah,.
Mengharap bertemu dengan Allah, itulah cita-cita setiap orang yang beriman. Inilah yang disebut raja’, yang berarti pengharapan. Allah telah menjanjikan bagi hamba-NYA yang beriman, bahwa mereka akan diberi nikmat abadi kelak diakhirat. Yaitu diberi kesempatan liqa’ (bertemu) dengan Allah. Bertemu dengan Allah adalah puncak dan cita-cita tertinggi tertinggi setiap mukmin. Karena harapan akan bertemu dengan Allah itulah mereka yang beriman dan beramal sholeh. Orang yang mengerjakan diperintahkan maupun menjauhi yang dilarang. Orang beribadah dengan tekun kepada Allah. Bertemu dengan Allah itu adalah didalam surga. Maka diberilah kepastian oleh Allah, bahwa ajal itu pasti datang. Yaitu apa yang telah dijanjikan oleh Allah itu pasti terjadi. Tidak usah ragu-ragu lagi.
“Dan dia adalah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”.
(Penghujung QS AL Ankabut ayat 5).
Maka segala doa dan munajat, segala seruan dan keluhan kepada Ilahi, semua Dia dengarkan. Keikhlasan hati hamba-Nya ketika melaksanakan suatu amalan, senantiasa diketahui oleh Allah. Tidaklah ada amalan yang terbuang percuma.
Jihad adalah bekerja keras, bersungguh-sungguh, tidak mengenal kelalaian. Siang dan malam, Petang dan pagi. Berjihad agar agama ini maju, jalan Allah tegak dengan seutuhnya. Berjuang dengan mengobarkan tenaga, harta benda, kalua perlu jiwa sekalipun
Jika mau berjihad di jalan Allah maka haruslah berbanting tulang yang membuktikan bahwa hidupnya adalah untuk memperjuangkan di jalan Allah. Keuntungan berjuang di jalan Allah dengan sungguh-sungguh ialah akan bertambah tinggi derajat jiwanya. Bertambah banyak pengetahuan, pengalaman dan ilmunya. Orang-orang yang berjihad dengan sungguh-sungguh menegakkan keadilan dan kebesaran Allah itu, akan mendapat tempat yang istimewa di sisiNYA dalam surga Jannatun Na’im, menerima pahala dan ganjaran atas amalan.
Iman atau kepercayaan, atau aqidah, disebut juga pandangan hidup sejati adalah sikap jiwa. Maka sikap jiwa itulah yamg kelaknya menentukan corak kehidupan. Iman itu dengan sendiri menimbulkan amal yang sholeh, disebut juga perbuatan yang baik. Karena yang menghubungkan antara batin manusia dengan lahirnya, hatinya dengan perbuatan adalah niatnya. Dari iman yang sejati itulah timbul amaan yang shaleh. Dalam ayat ini Allah menegaskan janjinya.
“Sungguh akan kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan sungguh akan kami beri pahala mereka dengan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan itu”.
(Penghujung QS AL Ankabut ayat 7).
Sekali Allah memberi ingat bahwa salahlah persangkaan orang yang mengira bahwa Allah akan membiarkan saja orang yang berbuat kejahatan, seakan-akan Allah tidak tahu. Kerja kita yang buruk walau sekecil apapun, tidaklah lepas dari penglihatan Allah. Sebab itu hendaklah kita jauhi benar-benar perbuatan yang jahat. Dan kalau terlanjur jahat, lekaslah taubat. Allah menegaskan, bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertaubat. Barangsiapa yang sangat sangat merindukan pengharapan bertemu dengan Allah, bahwa segala janji yang dijanjikan Allah adalah pasti.
Pada surat Al Ankabut ini Allah juga menjelaskan diantara amal kebaikan antara lain adalah wasiat dari Allah untuk mewajibkan dan memerintahkan jepada manusia supaya berbuat baik kepada kedua orang tua. Karena adanya perantara Allah kita bisa lahir di muka bumi ini. Kedua orang tua wajib dihormati, tetapi mereka tidak boleh dipatuhi dalam hal aqidah. Jika bertemu hak Allah dengan kedua orang tua yang tidak bisa lagi menyelesaikan perkaranya maka, hak Allah yang didahulukan.
Allah juga menjelaskan tentang Iman Munafik. Siapakah Iman Munafik itu? Iman Munafik semacam manusia yang dia itu mengaku beriman kepada Allah mereka sudah ribut dan ketakutan. Mereka mengomel dan mengeluh. Mereka mengatakan bahwa masuk islam hanyalah tertipu saja. Sedangkan orang-orang yang mukmin dan bersungguh-sungguh dalam berjihad dan berjuang dijalan llah, mereka pasti akan mudah mengatasi segala permasalahan tersebut, karena bagi orang-orang Mumin mereka percaya bahwa diantara kesukaran dan kesulitan ada kemudahan. Sedangkan orang yang hatinya Iman Munafik mereka , hati mereka tetaplah mengolok-olok islam jadi islam hanyalah ada di mulut saja Na’udzu billahi min dzalik.
Nah, bisa kita simpulkan bahwa banyak sekali penjelsan-penjelasan tentang kebaikan, beramal sholeh, jihad dengan sungguh-sungguh didalam surat Al Ankabut ini. Cobaan dan ujian akan datang kepada manusia dari segala sudut pandang kehidupan. Sejak dari zaman dahulu sampai zaman sekarang. Ilmu pengetahuan yang tinggi dapat saja jadi ujian dan cobaan terhadap iman. Sampai ada orang di zaman modern ini yang mengatakan kepercayaan Allah tidak diperlukan lagi, karena ilmu pengetahuan alam telah sangat maju.
Orang yang mempunyai cita-cita tinggi, kalau dia ingin selamat, hendaklah pandai menyesuaikan diri, tetapalah berpendirian teguh dengan hukum-hukum islam yang jelas Allah telah memberikan kepada kita lewat pedoman Al Quran dan Hadist .
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- TRAINING MOTIVASI GURU AL-QURAN
- Tasmi
- RUH SANG MUROBBI
- DAMPAK HANDPHONE BAGI ANAK
- Nasihat Yang Di Rindukan
Kembali ke Atas






