Biografi RAHMAH EL YUNUSIYAH
Biografi RAHMAH EL YUNUSIYAH
Oleh:
Elda Sofiana
Riha Malihatun
Malika Aurum
Aini Intan Nur Lailiyah
Pembimbing : dr. Aliyah Hidayati, Sp.THT.KL
Riwayat Hidup dan Sekilas jejak Rahma El Yunusiyah
Perjuangan yang dilakukan oleh Rahmah El Yunusiyah sangat dapat menjadi contoh teladan untuk kita semua sebagai Bangsa Indonesia. Apa apa yang Rahmah El Yunusiyah lakukan adalah hal hal baik yang sangat berguna untuk Negara Indonesia tanpa merugikan Negara sama sekali.
Penulis opini akan memberikan sedikit dari seluruh perjuangan yang Rahmah El Yunusiyah lakukan untuk Negara kita tercinta ini. Rahmah El Yunusiyah adalah seorang wanita tokoh pembaharuan dari Padang Panjang yang sempat hidup pada tiga zaman yaitu; Zaman Penjajahan kolonial Belanda, Zaman Penjajahan Jepang, dan Zaman Kemerdekaan. Seluruh hidup Rahmah diabdikan dalam Agama, Nusa, dan Bangsa.
Rahmah El Yunusiyah adalah salah satu diantara perempuan-perempuan hebat yang tampil dalam kehidupan, beliau adalah tokoh besar yang berpengaruh di masyarakat secara nyata yang memiliki cita-cita dan berupaya sekuat daya untuk mewujudkannya dengan pemikiran yang sangat idealis sama seperti KH dewantara..
Pada era 1930-1940 Rahma El Yunusiyah adalah pendiri sekolah khusus putri yang berlandaskan agama untuk pertama kalinya di Indonesia maka dari itu sangatlah fenomental di zamannya.
Pada buku biografi buku tentang Rahma El Yunusiyah di bab 2 penulis biograf tersebut membahas tentang riwayat hidup Rahma El Yunusiyah namun pada penulisan tersebut banyak menjelaskan tentang kota Padang Panjang yang mengakibatkan terlalu banyak penjelasan tentang nama daerah. Namun, pada halaman 19 penulis opini tersanjung dengan Buya Hamka yang tak alpa mengenang jejak perjuangan Rahma El Yunusiyah “…hanya seorang yag menarik hatinya. Kalau guru itu masuk kelas, terbuka pikirannya, dan pikiran teman-temannya. Dia ditakuti tetapi dicintai. Dia tidak banyak melarang, tetapi menggembirakan pekerjaan murid-murid… Ketika guru itu di dalam kelas seakan-akan diselaminya jiwa kanak-kanak. Dan semua menambah sayang murid-muridnya kepadanya… Barangkali baru dia seorang guru yang dicintai itu, yang memulai mengajar dengan metode pendidikan… Guru itu ialah almarhum Zainuddin Labay El Yunusy, yang mendirikan Sekolah Dinniyah…”.
Barangkali penulis opini juga menyukai diantara syarat-syarat menjadi guru;
1. Mengetahui dan menguasai pengetahuan yang diajarkan.
2. Berpengetahuan tentang cara-cara mengajar.
3. Berpengetahuan tentang sifat-sifat mental dan kemampuan murid-murid yang akan diajar.
4. Bersifat tenang, sabar, tidak gegabah, tidak terburu-buru, dan simpatik dalam tingkah laku dan perkataan.
Rahmah el Yunusiyah Dalam Mendirikan Sekolah
Rahmah el Yunusiyah adalah salah satu tokoh wanita hebat. Meskipun tidak diangkat sebagai salah satu pahlawan nasional, tetapi beliau menorehkan sejarah hidupnya dengan tinta emas. Perguruan Diniyah Putri Padang panjang yang tetap eksis hingga hari ini merupakan salah satu bukti perjuangannya. Bahkan beliau adalah perempuan pertama yang mendapat gelar syaikhah dari Universitas Al Azhar Mesir. Penganugerahan gelar syaikhah yang diberikan pada tahun 1957 ini dimaksudkan untuk menghormati jasa-jasa beliau dalam bidang pendidikan kaum perempuan.
Rahmah el Yunusiyah mengenyam pendidikan di sekolah milik kakak sulungnya. Diniyah School, sekolah agama yang menggunakan sistem koedukasi. Siswa laki-laki dan perempuan dicampur dalam ruang kelas yang sama. Saat itu, sedikit sekali perempuan yang belajar di sekolah. Di sekolah milik kakaknya, Rahmah menangkap ketidaksetaraan. Diskusi kelas didominasi para lelaki, guru yang semuanya laki-laki dan murid yang sebagian besar juga laki-laki. Murid perempuan kesulitan mendapatkan penjelasan agama secara mendalam tentang fikih yang berkaitan tentang perempuan.
Bagi Rahmah El Yunusiyah, perempuan adalah pendidik anak yang akan mengendalikan jalur kehidupan mereka selanjutnya. Makan perlu adanya upaya untuk meningkatkan kemampuan kaum perempuan, baik di bidang intelektual maupun kepribadian.
Namun, Rahmah el Yunusiyah tampak masih meyakini bahwa peran-peran domestik tak bisa dilepaskan dari perempuan. Ia memasukkan keterampilan rumah tangga ke dalam kurikulum sekolahnya, seperti memasak dan menjahit. Di masa itu, di tengah masyarakat yang sangat patriarki, pemikiran seperti ini agaknya masih bisa dimaklumi.
Kala itu, mendirikan dan mempertahankan sebuah sekolah bukan perkara mudah bagi Rahmah. Terlebih ketika kota Padang Panjang dihantam gempa pada 28 Juni 1926, dan kematian abangnya dua tahun sebelumnya.
Ia kesana kemari mencari uang untuk membangun lagi sekolahnya, ia juga sempat menghutang kepada saudagar kaya, beliau belum bias membayar hutang-hutang tersebut sampai terdengar para tokoh-tokoh nasional dan akhirnya pun terlunasi semuanya itu membuat Rahmah El Yunusiyah tak mudah putus asa kendati-meminjam ungkapan Azwar Anas-tersandung batu kerikil, terhambat tembok penghalang dan dihantam gelombang besar ia tetap berkomitmen laksana batu karang ditengah lautandemi perwujudan cita-cita. Diantara rintangan lain yang dilakukan oleh Rahmah El Yunusiyah adalah gempa telah meruntuhkan gedung-gedung asrama. Menurut catatan Hamka, Rahmah sampai berangkat ke Malaysia menemui sultan-sultan melayu untuk meminta bantuan.
Pembentukan Tentara Nasional
Pada Zaman Penjajahan Jepang, (1943) Rahmah El-Yunusiyah mempersiapkan murid murid Diniyah Putri mengikuti pelatihan P3K dan Palang Merah sebagai ganti tenaga sukarela dalam pertempuran, Rahmah El Yunusiyah juga memberikan dukungan penuh dalam pembentukan pasukan Gyugun yang menurutnya sangat strategis sebagai alat mencapai kemerdekaan Indonesia (1944). Rahmah pun menjadi pengurus ADI (Anggota Daerah Ibu) tingkat Sumatera Tengah yang bertujuan menentang Pemerintahan Jepang yang menggunakan gadis remaja untuk dijadikan wanita penghibur, dan menuntut ditutupnya rumah bordil. Rahmah juga menjadi ketua Ha Na Nokai dan Gyugun Ko En Kai Sumatera Tengah atau Organisasi Kaum Ibu.
Pada Zaman Kemerdekaan, Rahmah menjadi orang pertama yang mengibarkan bendera merah putih di Padang Panjang. Setelah dua bulan Kemerdekaan Bangsa Indonesia, tepatnya pada 5 oktober 1945, Soekarno mengeluarkan dekret pembentukan Tentara Keamanan Rakyat ( TKR ). Pada 12 oktober 1945 Rahmah melopori berdirinya TKR untuk padang panjang dan sekitarnya. Bersama dengan bekas anggota Haha No Kai, Rahmah mengatur dapur umum di komplek perguruan Diniyah Putri untuk kebutuhan TKR. Anggota anggota TKR ini menjadi tentara inti dari Bayalton Merapi dibawah pimpinan Anas Karim. Rahmah juga membentuk pasukan Ekstrimnis, yang tugasnya adalah menyelusup ke dalam kota Padang dan mengadakan pengacauan sambil mencari senjata. Anggota pasukan ini diambil dari pemuda pemuda kota Padang dan sekitarnya yang berevakuasi ke Padang Panjang. Pasukan ini sangat ditakuti oleh Belanda, dan namanya sangat populer dikalangan tentara Belanda.
Panggung Politik Rahma El Yunusiyah
Di zaman penjajahan Belanda, Rahmah El-Yunusiyah pernah mengetuai Rapat Umum Kaum Ibu di Padang Panjang dan menjadi Pengurus Serikat Kaum Ibu Sumatera (SKIS). Rahmah El Yunusiyah juga membentuk dan mengetuai Perikatan Guru-Guru Agama Puteri Islam (PGAPI). Selain itu, Rahmah terlibat aktif dalam penolakan Ordonansi Guru, Ordonansi Sekolah Liar, dan Ordonansi Kawin Bercatat.Beliau menjadi wakil kaum ibu Sumatera Tengah dalam Kongres Perempuan II di Batavia. Di zaman pendudukan Jepang, selain menjadi anggota peninjau dalam Tjuo Sangi In, beliau juga sebagai anggota Mahkamah Syar’iyyah dan anggota Majelis Islam Tinggi (MIT) di Bukittinggi.
Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan,Rahmah El-Yunusiyah menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) wilayah Sumatera Tengah. Pembentukan KNIP Padang Panjang bertempat di Diniyyah School Putri. Tetapi, Rahmah tidak terlalau dipusingkan dengan diskursus politik di Jakarta,fokus Rahmah pada kinerja KNIP di Sumatera Tengah, terutama di Padang Panjang.Salah satu hasil dari rapat-rapat yang digelar BP-KNIP adalah perlunya pembentukan partai-partai politik sebagai pelaksanaan demokrasi. Atas usul tertulis BP-KNIP pada 30 Oktober 1945, Mohammad Hatta selaku wakil presiden mengeluarkan Maklumat Pemerintah. Organisasi sosial dan agama pun mendeklarasikan sebagai partai politik,begitu pula dengan MIT yang menjangkau Sumatera. MIT yang dipimpin Muhammad Djamil Djambek bersuara bulat sebagai partai politik,Rahmah El Yunusiyahmendukung penuh akan hal ini. Namun, keputusan di Bukittinggi itu ditinjau ulang ketika pimpinan MIT mendengar kabar telah dibentuk Masyumi di tingkat nasional sebagai wadah aspirasi politik umat islam. Dengan berbagai pertimbangan, MIT pun menggabungkan diri ke Masyumi. Rahmah El Yunusiyah terlibat dalam pengembangan partai politik Masyumi di Minangkabau. Dalam Maklumat Pemerintah, pemilu untuk memilih wakil-wakil rakyat akan diselenggarakan pada Januari 1946, tetapi akibat rongrongan Belanda yang masih ingin menguasai Indonesia, jadwal pemilu akhirnya terbengkalai.
Di Masyumi, Rahmah El Yunusiyah termasuk tokoh berpengaruh. Pada 1952-1954,ia menjadi anggota Dewan Partai Masyumi Pusat di Jakarta. Beliau menjadi penasihat Masyumi Muslimat Sumatera Tengah pada 1954-1955. Artinya, di Jakarta rekam jejak Rahmah El Yunusiyah telah diakui Masyumi Muslimat berdiri bersamaan dengan berdirinya partai politik Masyumi. Pemilu di Sumatera Tengah, Rahmah dalam mengampanyekan Masyumi terbilang berhasil, karena partai politik berbasis agama paling besar pilihan politiknya adalah Masyumi. Masyumi menempati posisi kedua di bawah PNI. Rahmah El Yunusiyah terpilih sebagai anggota DPR pertama Indonesia lewat pemilu. Agenda pokok Rahmah El Yunusiyah pada persoalan pendidikan dan perempuan. Rahmah El Yunusiyah berada di Fraksi Masyumi Seksi E mengurusi Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan (PPK), Agama, dan Kesehatan.
Penutup
Buku Biografi Rahma El Yunusiyah dikemas sangat menarik dan isinya tentu sangat mudah dibaca dan dipahami oleh kalangan siapapun tua, muda, maupun remaja.
Akan tetapi, sampai saat ini Pemerintah belum memberikan penghargaan sebagai Pahlawan Nasional. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai pahlawannya. Seharusnya kita sebagai Bangsa Indonesia kita tahu sejarah Rahmah yang sangat berjasa untuk Negara Indonesia kita tercinta ini.
Share This Post To :
Kembali ke Atas
Artikel Lainnya :
- TRAINING MOTIVASI GURU AL-QURAN
- Tasmi
- RUH SANG MUROBBI
- DAMPAK HANDPHONE BAGI ANAK
- Nasihat Yang Di Rindukan
Kembali ke Atas






